Thursday, October 27, 2011

Belajar dari Kisah Tragis Nisza Ismail dan Wang Yue

Dua migguan yang lalu kita dan dunia dihebohkan oleh peristiwa terlindasnya anak balita Wang Yue (2) oleh dua buah mobil di kota Fosan, Provinsi Guangdong China. Reaksi keras muncul karena dalam sebuah video yang beredar di dunia maya, Pas kejadian tak ada orang yang menolong bocah malang tsb. Padahal orang nampak lalu lalang . Beruntung  muncul seorang pemulung yang kemudian memindahkan Wang Yue dari jalanan.
Dari negeri yang kita disuruh menuntut ilmu sampai jauh ke sana, kita mendapat pelajaran berharga. Rasa kemanusiaan dan kepedulian kita terhadap sesama sudah kian luntur saja.
Besar harapan kita bisa mengambil pelajaran dari peristiwa mengenaskan tersebut.


Namun apa daya…
Beberapa hari yang lalu, tak jauh dari halaman rumah kita di Cimahi,. Nisza Ismail, bayi  berumur 8 bulan nyawanya tak terselamatkan karena pihak rumah sakit konon katanya lamban dalam melakukan tindakan medis dikarenakan orang tua Nisza belum bisa memenuhi kekurangan uang administrasi.sebesar Rp. 70.000,- Astagfirullah….
Ini terasa lebih menohok karena kisah Nisza terjadi di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Kisahnya lebih nyata , dan semestinya pengaruhnya pun  lebih dahsyat dari video Wang Yue yang diunggah di internet bebrapa waktu lalu. Di negeri yang sejak kita bisa membaca dan menulis kita diajari bahwa sebagai warga negara kita berhak mendapat penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Ketika sebuah nyawa keselamatannya diabaikan begitu saja karena masalah nominal uang tentuanya sudah selayaknya kita bertanya apakah kita masih "dianggap" sebagai manusia?. Ketika jaminan konstitusi menyatakan dengan gagahnya bahwa bumi, air dan kekayaan alam yg terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan  dipergunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kenapa hal tersebut tidak berlaku bagi Nisza???.

Ah, andai saja  uang triliunan rupiah yang dirampok para koruptor bisa terselamatkan, mungkin kisah Nisza takkan terjadi.
                                                                        *
Kisah Umar bin Khattab yang memanggul sendiri gandum dari lumbung negara sebagai bentuk rasa tanggungjawab seorang pemimpin kepada rakyatnya karena didadapatinya seorang ibu sedang merebus batu hanya untuk ngabebenjokeun -mengalihkan tangis bayinya dari rasa lapar- semakin terasa seperti dongeng saja.


Sayang seribu sayang,
Nisza Ismail hidup di jaman serba modern yang teknologinya serba canggih. Teleconference , BBM-an, dan tetek bengek kecanggihan alat penunjang lainnya yang dengannya jarak bukan lagi jadi persoalan. Mungkin karena keseringan hidup di alam maya. Para pemimpin kian  terlena. Jadi  lupa untuk turun langsung menyapa rakyatnya.

Nisza tidak lahir di jaman yang dianggap hanya dongeng pengundang kantuk,
Nisza tidak lahir di jaman yang ketika itu, seorang pemimpin mempunyai kesadaran bahwa jabatan yang diembankan padanya adalah amanah dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Yang paling jelas,
Nisza tak dipimpin oleh pemimpin yang tak memiliki istana dan baju yang dikenakannya memiliki 12 tambalan.

Nisza Ismail dipimpin oleh pemimpin  yang perlente dan necis namun tak pernah merasa terpanggil oleh peringatan:
Hasibuu qobla antuhaasabuu.” Hisablah dirimu sebelum dihisab oleh Allah SWT.“Hasibuu qobla antuhaasabuu.” Hisablah dirimu sebelum dihisab oleh Allah SWT.


Cimahi, 27 Oktober 2011








Monday, October 24, 2011

Selamat Jalan Marco...

Arena MotoGP tanggal 23/10/2011 kehilangan seorang pembalap terbaiknya. Marco Simoncelli (24) tewas setelah terlibat dalam sebuah insiden di GP Malaysia. Pembalap nyentrik dengan rambut gondrong kribo yang merupakan salahsatu daya tarik MotoGp kini telah tiada.
Kita takkan lagi melihat manuver-manuver Marco Simoncelli (24) yang kadang-kadang bikin geram pembalap lainnya karena dinilai terlalu 'berani' dan dipandang bisa membahayakan keselamatan pembalap lain. Pembalap Italia yang digadang-gadang sebagai penerus kejayaan The Doctor ini  menghembuskan nafas terakhir dalam perjalanan ke rumah sakit. Bersama Valentino Rossi (32), Simoncelli merupakan dua ikon balap motor Italia. Dua pembalap ini bersahabat dekat. Rossi pun tak segan-segan menyebut sahabatnya ini sebagai "adiknya." Italia dan penggemar MotoGP pun pantas berduka.

CONI (Komite Olimpiade Italia) pun bersimpati dengan kepergiannya. Semua kegiatan olahraga yang dilaksanakan pada hari Minggu dihentikan selama satu menit untuk mengheningkan cipta sebagai tanda penghormatan terakhir bagi Simon. Liga Serie A Italia pun turut berduka. Seperti diketahui Marco Simoncelli merupakan  fans berat AC Milan.

"Saya saat itu sedang melihat pertandingan itu (ketika kecelakaan terjadi). Selain Simo adalah fans setia Milan, kami sangat sedih karena seorang atlet muda meninggalkan kita lebih cepat," ujar Tassotti-asisten pelatih AC Milan- pada Sky Sport Italia.

Selamat jalan Marco...
Pastinya MotoGP  takkan seseru ketika dirimu hadir.

Foto : from Getty Images

Monday, September 26, 2011

Festival Braga 2011

~…Jalan braga tetep teu robah
teu galideur tahan sajarah
gunta ganti henteu niru cara nu séjén
tuh jalan nu patén héy jalan konsékwén…~

Begitu petikan bait Lagu Jalan Braga yang dipopulerkan oleh Hetty Koes Endang. Jalan Braga pada beberapa hari terakhir kembali menjadi buah bibir karena pada Tanggal 23-25 September 2011 diselenggarakan Festival Braga yang mengambil tempat di jalan yang legendaris tersebut. Festival yang untuk tahun ini diselenggarakan oleh Pemkot Bandung sebagai salahsatu bagian dari perayaan Ultah Kota Bandung yang ke 201 terasa meriah.
Jalan yang pada tahun 1900 dinamakan Jalan Pedati (Pedatiweg) selama 3 hari menjadi sorotan.Di jalan pada Jaman  Belanda (era 1920-1930-an) banyak ditemukan toko-toko dan butik yang  menjual pakaian yang mengambil model dari Paris, Perancis. Yang dari sanalah  lahir pula sebutan  Parisj Van Java . Jalan Braga beberapa hari kemarin  kembali menjadi primadona. Seolah kembali mengulang kejayaan masa lalu.
Jalan yang kini aspalnya diganti dengan Bantu andesit, beberapa hari kemarin nampak ramai. Sepanjang jalan Braga disulap seperti galeri yang memamerkan foto-foto pemenang lomba yang bertemakan kota Bandung.

Festival Braga yang digelar kali ini nampak berbeda. Memang konon panitia pun ingin menghadirkan kesan yang berbeda dari festival Braga tahun-tahun sebelumnya yang terkesan seperti Pasar Malam Braga. Di Festival Braga kemarin kita bisa melihat atraksi seni budaya yang dalam keseharian sudah jarang ditemukan. Ada wayang Landung dari Panjalu Ciamis. Wayang yang terbuat dari dedaunan seperti jerami, eurih, kararas dan janur. Cukup menarik perhatian karena ukurannya yang besar. Tinggi wayang yang lebih mirip orang-orangan sawah namun mengambil wajah wayang golek tersebut sekitar 2 meteran. Pemandangan yang menarik  perhatian  pengunjung untuk menjadikannya sebagai objek foto. Malah tak sedikit yang berfoto bareng sama Wayang Landung ini. Lumayan lah buat nampang di poto profil jejaring sosial. Biar tambah eksis.Hehehe..

Di Braga pula kemarin kita bisa menemukan alat musik buhun alias kuno yang digunakan oleh  karuhun orang Sunda sekitar  6 abad yang lalu  untuk mengusir hama di sawah. Konon katanya bunyi Karinding  yang low decible sangat merusak konsentrasi hama.
Beberapa Komunitas  pun turut memeriahkan acara, salahsatunya Bikers Brotherhood. Kita bisa mejeng, foto-foto di atas motor-motor tua koleksi mereka.
Bagi yang rindu suasana sawah, di Jalan Braga Pendek dari simpang Braga –Naripan hingga simpang Braga- Asia Afrika kita menemukan sawah buatan seluas 50m x 6 m  lengkap dengan saung dan orang-orangan ‘tikus koruptor’nya.
Selain itu pula, Panitia mengadakan pre event pemutaran film indie dalam bus yang disulap menjadi bioskop. Wow gimana nggak seru coba?!..

 Moga-moga kegiatan ini tiap tahun diadakan, dan kian bagus baik dari sisi materi maupun kesiapan panitia penyelenggaranya. Event Festival Braga ini selain bisa dijadikan salahsatu bentuk hiburan gratis  bagi masyarakat juga bisa dijadikan tempat untuk menggali kembali kecintaan kita kepada warisan budaya para leluhur yang mulai hampir punah tergerus modernisasi.

I LEFT MY HEART IN BRAGA….

Wednesday, September 14, 2011

Pemimpin Oh...Pemimpin....


Mendengar berita ketua DPRD Jabar minta pindah rumah dengan anggaran Rp.15 Milyar dengan alasan karena konon katanya rumah dinasnya yang sekarang terlalu dekat dengan Mesjid dan lahan parkirnya kurang luas. Koq cetek banget yah. Moga-moga nih berita Cuma mengada-ada saja.
Rasululullah SAW saja (baca: pemimpin umat) pintu rumahnya nempel ke Mesjid. Biar bisa mengurusi permasalahan umat tanpa mengganggu ibadah kesehariannya. Malah kalau memang mau mencontoh Rasul, tuh rumah dinas udah pas banget yah lokasinya.

Kok serasa dejavu ya?.. Ingat ke beberapa tahun silam. Kala itu Kang Harry Roesli membuat tulisan tentang wakil rakyat sebagai kritik terhadap kebijakan bagi-bagi uang Rp. 25 Milyar kepada anggota DPRD Jabar yang diambil dari pos APBD .
GAJI presiden lebih besar dari gaji wakil presiden. Gaji gubernur juga lebih banyak dari gaji wakil gubernur. Gaji camat pasti juga lebih dari wakil camat.
Jadi gaji rakyat harusnya lebih besar dari gaji wakil rakyat,ya toh!?


Saya ini sudah jadi rakyat, dan anggota DPR maupun DPRD itu baru jadi
wakil rakyat. Untuk itu, kalau kemarin-kemarin ini beberapa koran lokal di
Bandung dan Jawa Barat memberitakan bahwa anggota DPRD Jawa Barat diguyuri uangsebesar Rp 25 milyar dan dibagi-bagikan Rp 250 juta per kepala, sudah
seharusnya saya sebagai rakyat mendapat lebih besar dari itu. Sekali
lagi mereka itu baru jadi wakil rakyat, sedangkan saya sudah jadi rakyat!
Begitu Tulis Kang Harry Roesli. Kalau saja berita yang di awal tulisan itu benar adanya. Hmm ternyata setelah beberapa tahun telah berlalu, koq gaya para wakil rakyat ini nggak berubah juga ya?..

Rindu rasanya punya wakil rakyat(baca:pemimpin) yang sikapnya sederhana seperti Khalifah Umar bin Khattab. Kalau baca kisahnya rasa-rasanya bak dongeng deh,. Karena rasanya bakalan sulit sekali menemukan watak pemimpin seperti beliau.

Suatu ketika seorang Romawi yang hendak menemui Khalifah Umar bin Khattab nampak kebingungan mencari istana Khalifah. Karena yang disebut istana oleh sang penunjuk jalan hanya rumah sederhana seperti halnya rumah milik kaum tak berpunya.
Rindu pemimpin seperti halnya Umar yang dalam sebuah kesempatan beliau berkata:
"Saudara-saudaraku sekalian! Aku abdi kalian, kalian harus mengawasi dan menanyakan segala tindakanku. Salah satu hal yang harus diingat, uang rakyat tidak boleh dihambur-hamburkan. Aku harus bekerja di atas prinsip kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.”

Kalau di sini Khan terbalik. Uang Rakyat malah habis pake membayar 'tukang'.Bikin miris memang.
Atau ketika dalam suatu waktu Khalifah Umar bin Khattab berpidato di hadapan para gubernur. Sang Khalifah berkata:
“Ingatlah, saya mengangkat Anda bukan untuk memerintah rakyat, tapi agar Anda melayani mereka. Anda harus memberi contoh dengan tindakan yang baik sehingga rakyat dapat meneladani Anda.”
Maka wajarlah apabila seorang filosof dan penyair dari India menyebut Amirul Mukminin
Seperti embun yang mendinginkan hati bunga lily dan bagaikan topan yang menggelagakkan dalamnya sungai.
Pemimpin berwatak seperti ini, niscaya nggak khan perlu capek-capek melakukan pencitraan deh. Dijamin!

Para pemimpin kita tak perlu lah se-ekstrem Khalifah Umar yang makanannya roti yang hampir mengeras. Atau berpakaian dengan dua belas tambalan pada baju lusuhnya.

Gaya hidup sederhana standar saja. Tengoklah gaya Presiden Iran, Ahmadinejad . Kesederhanaannya meluluhkan banyak hati. Tak hanya rakyat Iran saja, seluruh rakyat dunia pun turut jatuh hati.


Monday, August 15, 2011

Membentuk Generasi yang jujur dengan Pramuka



Ngomongin Hari jadi Pramuka yang sudah setengah abad yang jatuh pada tanggal 14 Agustus 2011 membalikan kembali kenangan ke masa kecil .Waktu sekolah dulu senang banget dengan yang namanya kegiatan Pramuka.
Konon Tema HUT Pramuka kali ini bertajuk Satu Pramuka untuk Satu Indonesia, Jayalah Indonesia. Dan mengambil sub tema Pramuka Penyelamat Generasi Muda. Moga-moga ini tema bukan cuma bagus di judulnya doang tapi dalam segi implementasinya juga Pramuka ini mendapat perhatian. Pramuka yang merupakan wadah pembinaan generasi muda sejak dini butuh perhatian serius dari pemerintah. Niatan luhur untuk mengenalkan nilai-nilai kejujuran, toleransi, kerja keras, cinta tanah air yang sejatinya ini merupakan modal untuk membangun karakter bangsa perlu dipupuk dan ditumbuhkembangkan. Perlu upaya nyata , tak  cukup dengan slogan. Jangan sampai anak-anak yang kurang mampu yang tersebar di sekolah-sekolah negeri di daerah malah terbebani dengan biaya ekstra untuk beli seragam Pramuka dan segala tektek bengek  biaya  kegiatan Pramuka misalnya ....hehehe. Ingat waktu SMP dulu. Karena untuk bisa masuk regu inti selain mesti punya kemampuan kepramukaan juga mesti punya banyak uang untuk beli seragam bagus, sepatu bagus biar keren, dsb. Kala itu mungkin pihak sekolah juga ingin mempertahankan kualitas karena beberapa tahun sebelumnya pernah menjadi wakil di Jambore Pramuka Internasional. Beruntung di Kota kami -Cimahi waktu itu, setiap instansi militer juga punya wadah kepramukaan. Akhirnya saya dan beberapa teman masuk ke Pramuka Dustira, yang dikelola oleh muiliter. Selain dapat teman lebih banyak, di sini tentunya lebih enak bila dibanding ikut Pramuka di sekolah karena hampir semua perlengkapan dikasih gratis. Kalau di sekolah teman satu regu hanya gabungan beberapa anak dari tiap-tiap kelas. Di Pramuka Dustira kala itu anggota regunya gabungan dari beberapa sekolah di Cimahi. Yang lebih seru ketika dalam setiap lomba Pramuka, kami harus bersaing dan berhadapan dengan teman-teman yang membela nama sekolah. Pada suatu ketika dalam satu lomba, kami keluar sebagai juara umum, sedang regu wakil dari sekolah kami menempati posisi kedua. Kontan saja pembina OSIS  dalam pidatonya ketika upacara bendera pada senin pagi mengeluh dan agak protes. "Sangat disayangkan banyak teman-teman kita lebih senang aktif di luar sekolah, bukannya aktif dengan kegiatan di dalam dengan membela dan mengharumkan nama sekolah.",begitu keluh Pembina upacara. Saya dan teman-teman yang waktu itu seolah tersindir cuma saling tatap dan senyam-senyum aja. "Yah..salah sendiri Pak, kasih dong gratis seragamnya...!"

Di Pramuka, kita dilatih disiplin. Ditanamkan nilai-nilai kejujuran. Slogan :"Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana-mana", itu sudah kami ketahui sedari kecil. Karena tertera dibuku saku yang selalu kami bawa,hehehe.
Mungkin orang macam Oom Gayus dan Oom Nasaruddin waktu kecilnya tak pernah ikutan Pramuka. Atau bisa jadi beliau dulunya anggota Pramuka juga. Namun mereka telah melupakan isi butir-butir Dasa Dharma Pramuka. Sehingga mereka tak tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya.

Dirgahayu Pramuka!


Tuesday, September 14, 2010

Depok selalu di hati



Bukan hanya karena ada lomba blog saja saya tergerak untuk menulis tentang kota Depok. Saya bermaksud hendak berbagi, walaupun yang dibagi hanya sebuah cerita.
Selama sepuluh tahun bekerja di Jakarta periode 1996-2006, kota Depok memang tak bisa lepas dari ingatan.Karena selalu saja saya singgah di kota ini.
Depok yang berada di selatan Jakarta memang cocok menjadi kota yang menyokong dan penyangga  ibukota. Wilayahnya masih rimbun dan asri. Pertumbuhan perekonomian  masyarakatnya yang menggeliat bergerak naik. Potensi inilah yang ditangkap sebagai peluang oleh dunia pertelekomunikasian . Kebetulan saya bekerja di perusahaan operator telekomunikasi swasta yang konon terkenal karena tariff murahnya. Banyak BTS (Base Transceiver Service) atau pemancar operator kami yang berada di wilayah Depok, seperti BTS  Sawangan, Cimanggis, Cipayung, dll.
Sekitar  awal tahun 2000an, pelanggan di Depok yang menggunakan jasa telekomunikasi  masih belum terlalu banyak, maka wilayah cakupan untuk perbaikan dan gangguannya masih ditangani dari Jakarta. Kalau sekarang sih sudah berkembang pesat ,pelanggannyapun sudah berlimpah ruah. Maka guna meningkatkan mutu  pelayanan  dan mempercepat penanganan bilamana terjadi gangguan. Kantor cabang perusahaan kamipun sudah berdiri disana.

Dulu kerja di Jakarta, masih lajang dan  tinggal di kost-kost-an di daerah Pancoran. Kalau sabtu dan  minggu libur  suka nyempetin waktu  main ke rumah sodara di daerah sawangan atau berkunjung ke rumah teman yang rumahnya tak jauh dari terminal Depok. Apalagi kalau  bulan Ramadan. Itung-itung ngirit biaya,berkunjung sekalian ikut buka dan sahur. Sungguh teman dan sodara yang tak tahu malu ya?..hehehehh.

Masih lekat dalam ingatan ketika saya dan tim selesai melakukan kegiatan perbaikan atau pengecekan rutin  BTS di daerah Depok. Kebetulan mobil kami lewat sekitar UI banyak sekali mahasiswa melakukan unjuk rasa. Kala itu rezim Soeharto belumlah  runtuh, Namun sudah hampir dekat dengan  masa kejatuhannya. Itulah masa-masa transisi menuju reformasi. Depan gerbang kampus yang menghadap jalan menuju Tanjung Barat Jagakarsa. Selain berorasi, sekelompok mahasiswa ada yang membuat teatrikal. Ada pula  yang bernyanyi menyanyikan lagu ‘Kolam Susu ‘milik Koes Ploes yang telah  digubah. Tentu saja apa yang mereka lakukan menjadi tontonan gratis bagi masyarakat dan para pengendara motor dan mobil yang kebetulan lewat daerah tersebut.Dan salahduanya adalah saya dan teman saya.

“Bukan Lautan Hanya Kolam Susu
Kail dan Jala Cukup Menghidupmu
Tiada Badai Tiada Topan Kau Temui
Ikan dan Udang Menghampiri Dirimu
Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga
Koq ..korupsi dan Kolusi membudaya
Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga
Koq ..korupsi dan Kolusi membudaya?...”

Sebuah nyanyian menggelitik sebagai bentuk kritik terhadap pemerintahan  kala itu. Tapi rasa-rasanya  tuh nyanyian masih  saja cocok dan terasa relevan sampai sekarang . Bukan karena lagunya yang evergreen tapi karena kondisi watak para pemangku negeri ini yang tak jua berubah. Apakah sekarang para mahasiswa disana masih rajin menyanyikan lagu itu di depan gerbang kampusnya atau tidak?. Entahlah. Sudah lama saya tak lagi lewat depan kampus mereka. Tiga tahun terakhir ini kerja saya dipindah ke Bandung.

Semoga saja mereka tak bosan dan tetap menyanyikan lagu itu di depan gerbang kampusnya. Karena para penguasa saat ini masih juga perlu terus diingatkan.
Anggaplah nyanyian "Kolam Susu" yang telah digubah tersebut menjadi "Nyanyian dari Depok untuk Negeri."

Tulisan ini dibuat untuk: “LombaBlogDepok”,


Thursday, July 8, 2010

Sial tanpa angka 13

Kalau Angka 13 biasanya diidentikan dengan angka sial. Ini tidak berlaku bagi Timnas Jerman. Ketidakhadiran Nomor 13 justru membuat petaka bagi Tim Panser tersebut.

Adalah Thomas Mueller, sang pemilik Nomor Punggung 13 yang tak bisa bermain pada partai seminal melawan Spanyol. Hasilnya Tim Panser Loyo dan digebuk Spanyol dengan skor 1-0 lewat gol tandukan Charles Puyol.
Sudah menjadi tradisi di Timnas Jerman bahwa pemain dengan Nomor punggung 13 adalah pemain yang sangat penting bahkan bisa dibilang ruh permainan. Sebelum Mueller, pemilik Nomor punggung 13 adalah Michael Ballack sang kapten. Sayang Ballack tak bisa hadir di Afsel karena di final piala FA kakinya ditebas pemain Portsmouth sehingga menderita cedera serius. Beruntung sang pengganti yang muda belia bisa menggantikannya perannya dengan baik. Beberapa dekade sebelumnya Jerman punya striker kahot bernomor punggung 13, Gerd Mueller yang memegang rekor pencetak gol terbanyak kedua di Piala Dunia setelah Ronaldo dengan 14 Gol.

Mungkin bila Thomas Mueler main, keadaan bisa berbeda. Jerman kalah bukan karena Joachim Loew setia memakai Sweter biru yang tak pernah dicuci selama perhelatan Piala Dunia Afsel berlangsung.Warna biru konon merupakan warna kutukan bagi tim-tim dengan kostum didominasi warna tersebut. Jerman kalah bukan  karna prediksi si Paul, gurita yang jago ramal yang lebih menjagokan Spanyol. Jerman kalah karena para pemain Spanyol lebih sabar dan telaten dalam bermain. Lebih pandai dalam memanfaatkan  sekecil apapun peluang.

Rasa-rasanya Spanyol Tahun ini bakal menggabungkan gelar Juara Eropa dan Juara Dunia untuk pertama kalinya.

Apapun prediksi si Gurita Paul nanti, asalkan Spanyol tetap disiplin dan tak meremehkan Belanda. Rasa-rasanya David Villa dan kawan-kawan akan pulang membawa Piala.